Jumat, 12 April 2019

BAHAN AJAR TEMATIK-INTEGRATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENANAMKAN KARAKTER PADA SISWA SEKOLAH DASAR


BAHAN AJAR TEMATIK-INTEGRATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENANAMKAN KARAKTER PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Rokhimatul Khotimah

Abstak

Kurikulum 2013 yang sekarang sedang berjalan dan diterapkan di sekolah-sekolah dasar merupakan kurikulum terintegrasi yang menekankan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengedepankan penanaman karakter pada siswa. Pembelajaran tematik-integratif merupakan pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013 yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pembelajaran tematik integratif perlu didukung perangkat pembelajaran tematik-integratif yang berkualitas sehingga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan karakter positif. Perangkat tersebut mulai dari program pembelajaran sampai dengan bahan ajar yang digunakan. Penerapan Kurikulum 2013 masih mengalami berbagai kendala diantaranya penggunaan bahan ajar tematik integratif belum sesuai yang diharapkan. Guru menggunakan buku ajar dari pemerintah tanpa dapat mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal. Pembelajaran tematik yang meaningful dan joyfull dapat diwujudkan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa atau biasa dikenal dengan contextual teaching and learning. Untuk mengkontekstualkan pembelajaran tematik bisa dilakukan melalui penanaman nilai-nilai kearifan lokal dimana siswa berada. Pembelajaran bermakna akan dapat diperoleh jika anak belajar sesuai dengan lingkungan sosialnya, sehingga unsur budaya tidak bisa dilepaskan dalam merancang sebuah pembelajaran di sekolah.

Kata Kunci : bahan ajar, karakter, kearifan lokal, tematik-integratif
 
PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 yang sekarang sedang berjalan dan diterapkan di sekolah-sekolah dasar merupakan kurikulum terintegrasi yang menekankan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terintegrasi yang mengedepankan penanaman karakter pada siswa. Penerapan Kurikulum 2013 disajikan dalam model pembelajaran tematik-integratif. Pembelajaran tematik-integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Bahan ajar yang digunakan pada pembelajaran tematik integratif diharapkan mampu menyampaikan tujuan dari pembelajaran pada kurikulum 2013. Selain itu, bahan ajar diharapkan mampu menanamkan karakter pada siswa sejak usia sekolah dasar.
Seorang guru harus menyiapkan bahan ajar yang diperlukan dalam proses pembelajaran sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Pengembangan bahan ajar sangat penting dilakukan guru. Pembelajaran tematik yang meaningful dan joyfull dapat diwujudkan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa. Sumber belajar tematik integratif diperlukan untuk mendukung penerapan pendekataan pembelajaran tematik integratif juga dapat menanamkan karakter pada siswa. Untuk mengkontekstualkan pembelajaran tematik bisa dilakukan melalui penanaman nilai-nilai kearifan lokal dimana siswa berada.
Pemerintah sebagai pencetus Kurikulum 2013 telah menyediakan sumber belajar berupa buku guru dan buku siswa untuk mendukung pelaksanaan kurikulum. Buku guru dan buku siswa yang disediakan oleh pemerintah memiliki cakupan materi yang masih bersifat umum karena diperuntukkan bagi siswa di seluruh Indonesia. Permasalahan ini menuntut guru agar mampu mengembangkan materi atau bahan ajar sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga lebih kontekstual dan dapat menanamkan karakter siswa. Pada kenyataannya, guru menggunakan buku ajar dari pemerintah tanpa mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal sehingga proses pembelajaran belum efektif untuk menanamkan karakter pada siswa. Penyelenggaraan pembelajaran berorientasi pada kearifan lokal belum berjalan optimal. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai bahan ajar tematik integratif berbasis kearifan lokal untuk menanamkan karakter pada siswa sekolah dasar.
 
KAJIAN PUSTAKA


1.    Bahan Ajar Tematik Integratif
Menurut Depdiknas (2008:6), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan yang tidak tertulis. Rudi Susilana (2009) menyatakan bahwa bahan ajar merupakan suatu software yang mendukung pesan untuk disajikan melalui pemakaian alat. Tujuan dari adanya bahan ajar tersebut yaitu 1) membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu, 2) memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran, 3) membuat pembelajaran menjadi semakin menarik. Bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik akan menciptakan suatu lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Peserta didik dapat berinteraksi menggunakan bahan ajar yang tersedia dengan cara yang bermakna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran yang dirancang dan dikemas berdasarkan tema-tema tertentu dan dalam pembahasannya tema-tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema (Kemendikbud, 2013: 9). Pembelajaran tematik integratif memerlukan perencanaan dan organisasi supaya pembelajaran dapat berhasil. Ada lima bidang utama yang perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran tematik yang efektif dan efisien. Hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran tematik adalah (1) memilih tema, (2) mengorganisasi tema, (3) mengumpulkan bahan dan sumber daya, (4) merancang kegiatan dan proyek, dan (5) menerapkan unit. Bahan ajar tematik integratif yaitu bahan ajar yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema.
2.    Kearifan Lokal
Sumayana (2017:23) menjelaskan bahwa kearifan lokal merupakan pandangan hidup dan strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah untuk pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan lokal merupakan identitas masyarakat sebagai suatu kekayaan daerah yang dapat berupa pandangan hidup, ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan kebudayaan (Utari dan Degeng, 2016). Kearifan lokal atau sering disebut local Wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Local genius atau local wisdom (kearifan lokal) merupakan identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri.
Kearifan lokal merupakan bentuk dialektika antara manusia dengan pengetahuan kehidupan. Tilaar (2015: 24) menjelaskan bahwa kearifan lokal mempunyai nilai pedagogis untuk mengatur tingkah laku yang bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Kajian ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 pasal 2 ayat (2) menjelaskan bahwa muatan lokal diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan spiritual di daerahnya. Tujuan lainnya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Sularso (2016:74) menyebutkan bahwa proses pendidikan dengan menjadikan kearifan lokal penting untuk direalisasikan sebab kearifan lokal sudah mulai terabaikan yang terlihat dari perilaku kehidupan sehari-hari yang tidak mewujdukan nilai-nilai kearifan lokal dan lokalitas tergerus oleh tatanan gaya hidup yang di dalamnya mengandung nilai pragmatis kapitalistik.
3.    Karakter
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi III (2011), karakter adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Karakter juga dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Membangun karakter merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga ”berbentuk” unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain (Elmubarok, dalam Jurnal Pendidikan Karakter Eti Daniastuti dan Haryadi, 2017).  Kemendiknas (2010: 12-20) menjelaskan bahwa pengembangan karakter dan budaya bangsa dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Pembentukan karakter berlangsung seumur hidup.
Kurikulum 2013 memandang bahwa pengembangan sikap menjadi salah satu hal yang ditekankan karena peserta didik akan menjadi generasi penerus bangsa yang diharapkan memiliki pribadi-pribadi yang berkarakter mulia. Penanaman karakter pada anak sangat baik dilakukan sejak dini, hal ini dikarenakan anak usia dini atau usia sekolah dasar masih mudah untuk diarahkan. Penanaman karakter sejak dini bertujuan agar nilai-nilai karakter yang ingin dibangun terekam dengan baik di benak peserta didik. Karakter yang ditanamkan pada anak dalam kurikulum 2013 antara lain religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 PEMBAHASAN

Pendidikan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, dan pembentukan kepribadian. Kepribadian dengan karakter unggul antara lain,bercirikan kejujuran, berakhlak mulia, mandiri, serta cakap dalam menjalani hidup (Renstra Kemendikbud 2015-2019). Penanaman karakter pada anak dapat dilakukan dengan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Masa sekolah dasar adalah masa yang tepat untuk menanamkan karakter pada anak sebelum akhirnya mereka terjun ke dalam masyarakat. Tahap pekembangan anak usia sekolah dasar masih cenderung aktif bermain di lingkungan  sekitar tempat tinggalnya. Karakteristik siswa SD secara umum adalah sebagai berikut: (1) memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik pada dunia sekitar, (2) senang bermain dan lebih suka bergembira, (3) suka mengatur dirinya untuk menangai berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha–usaha baru, (4) bergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana anak tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan, (5) belajar secara efektif ketika merasa puas dengan situasi yang terjadi, (6) belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak-anak lainnya.
Anak pada usia sekolah dasar berada pada fase operasional konkret. Berdasarkan fase ini, pembelajaran di sekolah dasar hendaknya diawali dengan sesuatu yang konkret dan nyata serta dekat dengan kehidupan, pengetahuan dan pengalaman siswa. Pemilihan kearifan lokal sebagai tema utama dikarenakan tema tersebut berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menanamkan karakter pada siswa. Pembelajaran berbasis kearifan lokal penting untuk diterapkan karena pembelajaran di sekolah dasar tidak hanya bertujuan untuk siswa namun juga menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter budaya bangsa.
Penanaman nilai moral dan karakter perlu dilakukan sejak dini terutama di Sekolah Dasar. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UURI) no.17 Tahun 2007 tentang RPJPN, terdapat 18 nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa. Salah satu karakter yang perlu dikembangkan pada siswa adalah sikap peduli terhadap lingkungan. Peduli lingkungan menurut Widyaningrum (2016: 109) adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Melalui proses belajar mengajar yang berwawasan  lingkungan,  penyediaan  fasilitas  sekolah  yang  memadai,  serta kegiatan penunjang lain akan menumbuhkan rasa menghargai, memiliki, dan memelihara dalam diri siswa terhadap sumber daya dan lingkungan hidup. Penanaman karakter pada anak juga didukung oleh budaya yang ada di lingkungan. Pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Kearifan lokal merupakan bentuk dialektika antara manusia dengan pengetahuan kehidupan yang mempunyai nilai pedagogis untuk mengatur tingkah laku yang bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 pasal 2 ayat (2) menjelaskan bahwa muatan lokal diajarkan dengan tujuan membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan spiritual di daerahnya. Tujuan lainnya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal tidak muncul begitu saja, akan tetapi terdapat acuan yang melandasinya. Acuan yang digunakan setidaknya pada dua hal, yaitu pembelajaran sebagai salah satu aspek pemenuhan tujuan pendidikan dan landasan yuridis kebijakan nasional pendidikan. Landasan yuridis kebijakan nasional tentang pendidikan berbasis kearifan lokal (PBKL), diantaranya:  “Renstra Kemendiknas 2010-2014 bahwa: Pendidikan harus menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem, yaitu pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem. Pendidikan harus memberikan pemahaman tentang nilai-nilai tanggung-jawab sosial dan natural untuk memberikan gambaran pada peserta didik bahwa mereka adalah bagian dari sistem sosial yang harus bersinergi dengan manusia lain dan bagian dari sistem alam yang harus bersinergi dengan alam beserta seluruh isinya”.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal yang bertujuan untuk menanamkan karakter siswa dapat dikemas ke dalam sebuah bahan ajar tematik integratif. Bahan ajar tematik integratif yaitu bahan ajar yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pembelajaran tematik integratif tersebut merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam kurikulum 2013 yang saat ini digunakan. Tujuan dari adanya bahan ajar tersebut yaitu 1) membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu, 2) memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran, 3) membuat pembelajaran menjadi semakin menarik. Bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik akan menciptakan suatu lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Penggunaan bahan ajar tematik integratif berbasis kearifan lokal membuat peserta didik dapat berinteraksi dengan cara yang bermakna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Tabel 1. Pemanfaatan kearifan lokal dalam bahan ajar tematik integratif dan karakter yang dapat ditanamkan pada siswa
No.
Kelas
Tema
Kearifan Lokal (Lingkungan)
Karakter yang ditanamkan
1.
I
Benda, hewan, dan tanaman
 di sekitarku
Hutan mangrove
Bersahabat dengan lingkungan, peduli lingkungan, cinta tanah air.
2.
II
Pengalamanku
Museum
Rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, tanggung jawab, peduli sosial.
3.
III
Benda di sekitarku
Pantai
Rasa ingin tahu, peduli lingkungan,
4.
IV
Peduli terhadap makhluk hidup
Pegunungan
Peduli lingkungan, peduli sosial, bersahabat, cinta damai
5.
V
Ekosistem
Pegunungan, pantai
Mandiri, bershabat, peduli lingkungan.
6.
VI
Selamatkan makhluk hidup
Taman bunga
Peduli lingkungan, cinta tanah air, cinta damai.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa bahan ajar tematik integratif dapat dikembangkan dengan berbasis kearifan lokal yang ada di suatu daerah sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga anak memperoleh pengalaman pembelajaran yang bermakna. Karakter pada siswa juga dapat ditanamkan melalui kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan kearifan lokal sebagai sarana dalam penyampaian pembelajarannya.
 
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa sekolah dasar masih berada pada fase operasional konkret. Berdasarkan fase ini, pembelajaran di sekolah dasar diawali dengan sesuatu yang konkret dan nyata serta dekat dengan kehidupan, pengetahuan dan pengalaman siswa. Bahan ajar tematik integratif yaitu bahan ajar yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Bahan ajar tematik integratif berbasis kearifan lokal sebagai tema utama dapat digunakan untuk menyampaikan tujuan dari pembelajaran pada kurikulum 2013 dikarenakan tema tersebut berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menanamkan karakter pada siswa. Tujuannya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Sekarang ini banyak guru menggunakan bahan ajar yang disediakan dari pemerintah tanpa mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal. Sebagai seorang guru sangat dianjurkan untuk dapat mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan dapat menanamkan karakter pada siswa. Hal ini sangat diperlukan karena bahan ajar yang disediakan oleh pemerintah memiliki cakupan materi yang masih bersifat umum karena diperuntukkan bagi siswa di seluruh Indonesia dan belum sesuai dengan keadaan atau kearifan lokal yang ada di daerah sekitar tempat tinggal siswa.

DAFTAR PUSTAKA 

Poerwadarminta, W.J.S. (2011). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Susilana, Rudi. (2009). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian II: Ilmu Pendidikan Praktis). ISBN: 978-979-16173-0-7. Bandung: IMTIMA.


Yusinta Dwi Ariyani & Muhammad Nur Wangid. (2016). Pengembangan Bahan Ajar Tematik-Integratif Berbasis Nilai Karakter Peduli Lingkungan dan Tanggung Jawab. Jurnal Pendidikan Karakter, (1), 116-129.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar