BAHAN
AJAR TEMATIK-INTEGRATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENANAMKAN KARAKTER PADA
SISWA SEKOLAH DASAR
Rokhimatul Khotimah
Abstak
Kurikulum
2013 yang sekarang sedang berjalan dan diterapkan di sekolah-sekolah dasar
merupakan kurikulum terintegrasi yang menekankan pada pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengedepankan
penanaman karakter pada siswa. Pembelajaran
tematik-integratif merupakan pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013 yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam
berbagai tema. Pembelajaran tematik integratif perlu didukung perangkat
pembelajaran tematik-integratif yang berkualitas sehingga menumbuhkan kemampuan
berpikir kritis dan karakter positif. Perangkat tersebut mulai dari program
pembelajaran sampai dengan bahan ajar yang digunakan. Penerapan Kurikulum 2013
masih mengalami berbagai kendala diantaranya penggunaan bahan ajar tematik
integratif belum sesuai yang diharapkan. Guru menggunakan buku ajar dari
pemerintah tanpa dapat mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal.
Pembelajaran tematik yang meaningful
dan joyfull dapat diwujudkan dengan
mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa atau biasa dikenal
dengan contextual teaching and learning. Untuk mengkontekstualkan pembelajaran
tematik bisa dilakukan melalui penanaman nilai-nilai kearifan lokal dimana
siswa berada. Pembelajaran bermakna akan dapat diperoleh jika anak belajar
sesuai dengan lingkungan sosialnya, sehingga unsur budaya tidak bisa dilepaskan
dalam merancang sebuah pembelajaran di sekolah.
Kata Kunci : bahan ajar, karakter, kearifan
lokal, tematik-integratif
PENDAHULUAN
Kurikulum 2013
yang sekarang sedang berjalan dan diterapkan di sekolah-sekolah dasar merupakan
kurikulum terintegrasi yang menekankan pada pengetahuan, keterampilan, dan
sikap. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terintegrasi yang mengedepankan
penanaman karakter pada siswa. Penerapan Kurikulum 2013 disajikan dalam model
pembelajaran tematik-integratif. Pembelajaran tematik-integratif merupakan
pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai
mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Bahan ajar yang digunakan pada
pembelajaran tematik integratif diharapkan mampu menyampaikan tujuan dari
pembelajaran pada kurikulum 2013. Selain itu, bahan ajar diharapkan mampu
menanamkan karakter pada siswa sejak usia sekolah dasar.
Seorang guru
harus menyiapkan bahan ajar yang diperlukan dalam proses pembelajaran sebelum
kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Pengembangan bahan ajar sangat penting
dilakukan guru. Pembelajaran tematik yang meaningful
dan joyfull dapat diwujudkan dengan
mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia terdekat siswa. Sumber belajar
tematik integratif diperlukan untuk mendukung penerapan pendekataan pembelajaran
tematik integratif juga dapat menanamkan karakter pada siswa. Untuk
mengkontekstualkan pembelajaran tematik bisa dilakukan melalui penanaman
nilai-nilai kearifan lokal dimana siswa berada.
Pemerintah
sebagai pencetus Kurikulum 2013 telah menyediakan sumber belajar berupa buku
guru dan buku siswa untuk mendukung pelaksanaan kurikulum. Buku guru dan buku
siswa yang disediakan oleh pemerintah memiliki cakupan materi yang masih
bersifat umum karena diperuntukkan bagi siswa di seluruh Indonesia.
Permasalahan ini menuntut guru agar mampu mengembangkan materi atau bahan ajar
sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga lebih kontekstual dan dapat menanamkan
karakter siswa. Pada kenyataannya, guru menggunakan buku ajar dari pemerintah
tanpa mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal sehingga proses
pembelajaran belum efektif untuk menanamkan karakter pada siswa.
Penyelenggaraan pembelajaran berorientasi pada kearifan lokal belum berjalan
optimal. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan pengkajian lebih
lanjut mengenai bahan ajar tematik integratif berbasis kearifan lokal untuk
menanamkan karakter pada siswa sekolah dasar.
KAJIAN PUSTAKA
1. Bahan Ajar Tematik Integratif
Menurut Depdiknas (2008:6), bahan ajar adalah segala
bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis
maupun bahan yang tidak tertulis. Rudi Susilana (2009) menyatakan bahwa bahan
ajar merupakan suatu software yang mendukung pesan untuk disajikan melalui
pemakaian alat. Tujuan dari adanya bahan ajar tersebut yaitu 1) membantu
peserta didik dalam mempelajari sesuatu, 2) memudahkan peserta didik dalam
melaksanakan pembelajaran, 3) membuat pembelajaran menjadi semakin menarik. Bahan
ajar yang menarik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik akan
menciptakan suatu lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk
belajar. Peserta didik dapat berinteraksi menggunakan bahan ajar yang tersedia
dengan cara yang bermakna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran tematik dimaknai sebagai pembelajaran
yang dirancang dan dikemas berdasarkan tema-tema tertentu dan dalam
pembahasannya tema-tema ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran
tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan
berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema
(Kemendikbud, 2013: 9). Pembelajaran tematik integratif memerlukan perencanaan
dan organisasi supaya pembelajaran dapat berhasil. Ada lima bidang utama yang
perlu dipertimbangkan dalam merancang pembelajaran tematik yang efektif dan
efisien. Hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran tematik
adalah (1) memilih tema, (2) mengorganisasi tema, (3) mengumpulkan bahan dan
sumber daya, (4) merancang kegiatan dan proyek, dan (5) menerapkan unit. Bahan
ajar tematik integratif yaitu bahan ajar yang memadukan berbagai kompetensi
dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema.
2.
Kearifan
Lokal
Sumayana (2017:23) menjelaskan bahwa kearifan lokal
merupakan pandangan hidup dan strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah untuk pemenuhan
kebutuhan mereka. Kearifan lokal merupakan identitas masyarakat sebagai suatu
kekayaan daerah yang dapat berupa pandangan hidup, ilmu pengetahuan, adat
istiadat, dan kebudayaan (Utari dan Degeng, 2016). Kearifan lokal atau sering
disebut local Wisdom dapat dipahami
sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak
dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang
tertentu. Local genius atau local wisdom (kearifan lokal) merupakan
identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu
menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri.
Kearifan lokal merupakan bentuk dialektika antara
manusia dengan pengetahuan kehidupan. Tilaar (2015: 24) menjelaskan bahwa
kearifan lokal mempunyai nilai pedagogis untuk mengatur tingkah laku yang
bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Kajian ini sesuai dengan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun
2014 pasal 2 ayat (2) menjelaskan bahwa muatan lokal diajarkan dengan tujuan
membekali peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan spiritual di daerahnya.
Tujuan lainnya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan
daerah yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang
pembangunan nasional. Sularso (2016:74) menyebutkan bahwa proses pendidikan
dengan menjadikan kearifan lokal penting untuk direalisasikan sebab kearifan
lokal sudah mulai terabaikan yang terlihat dari perilaku kehidupan sehari-hari
yang tidak mewujdukan nilai-nilai kearifan lokal dan lokalitas tergerus oleh
tatanan gaya hidup yang di dalamnya mengandung nilai pragmatis kapitalistik.
3.
Karakter
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi III
(2011), karakter adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi
pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Karakter juga dapat
diartikan sebagai nilai-nilai yang khas, baik watak, akhlak atau kepribadian
seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang
diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan
bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Membangun karakter merupakan
proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga ”berbentuk” unik,
menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain (Elmubarok, dalam
Jurnal Pendidikan Karakter Eti Daniastuti dan Haryadi, 2017). Kemendiknas (2010: 12-20) menjelaskan bahwa
pengembangan karakter dan budaya bangsa dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu
melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Pembentukan
karakter berlangsung seumur hidup.
Kurikulum 2013 memandang bahwa pengembangan sikap
menjadi salah satu hal yang ditekankan karena peserta didik akan menjadi
generasi penerus bangsa yang diharapkan memiliki pribadi-pribadi yang
berkarakter mulia. Penanaman karakter pada anak sangat baik dilakukan sejak
dini, hal ini dikarenakan anak usia dini atau usia sekolah dasar masih mudah
untuk diarahkan. Penanaman karakter sejak dini bertujuan agar nilai-nilai
karakter yang ingin dibangun terekam dengan baik di benak peserta didik.
Karakter yang ditanamkan pada anak dalam kurikulum 2013 antara lain religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin
tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan tanggung jawab.
PEMBAHASAN
Pendidikan berorientasi pada pembudayaan,
pemberdayaan, dan pembentukan kepribadian. Kepribadian dengan karakter unggul antara
lain,bercirikan kejujuran, berakhlak mulia, mandiri, serta cakap dalam
menjalani hidup (Renstra Kemendikbud 2015-2019). Penanaman karakter pada anak
dapat dilakukan dengan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Masa
sekolah dasar adalah masa yang tepat untuk menanamkan karakter pada anak
sebelum akhirnya mereka terjun ke dalam masyarakat. Tahap pekembangan anak usia
sekolah dasar masih cenderung aktif bermain di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Karakteristik
siswa SD secara umum adalah sebagai berikut: (1) memiliki rasa ingin tahu yang
kuat dan tertarik pada dunia sekitar, (2) senang bermain dan lebih suka
bergembira, (3) suka mengatur dirinya untuk menangai berbagai hal,
mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha–usaha baru, (4) bergetar
perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana anak tidak suka
mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan, (5) belajar secara
efektif ketika merasa puas dengan situasi yang terjadi, (6) belajar dengan cara
bekerja, mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak-anak lainnya.
Anak pada usia sekolah dasar berada pada fase
operasional konkret. Berdasarkan fase ini, pembelajaran di sekolah dasar
hendaknya diawali dengan sesuatu yang konkret dan nyata serta dekat dengan
kehidupan, pengetahuan dan pengalaman siswa. Pemilihan kearifan lokal sebagai
tema utama dikarenakan tema tersebut berhubungan erat dengan kehidupan
sehari-hari dan dapat menanamkan karakter pada siswa. Pembelajaran berbasis
kearifan lokal penting untuk diterapkan karena pembelajaran di sekolah dasar
tidak hanya bertujuan untuk siswa namun juga menekankan pada pembentukan
nilai-nilai karakter budaya bangsa.
Penanaman nilai moral dan karakter perlu dilakukan
sejak dini terutama di Sekolah Dasar. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia
(UURI) no.17 Tahun 2007 tentang RPJPN, terdapat 18 nilai-nilai dalam pendidikan
budaya dan karakter bangsa. Salah satu karakter yang perlu dikembangkan pada
siswa adalah sikap peduli terhadap lingkungan. Peduli lingkungan menurut
Widyaningrum (2016: 109) adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya
mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Melalui proses belajar
mengajar yang berwawasan
lingkungan, penyediaan fasilitas
sekolah yang memadai,
serta kegiatan penunjang lain akan menumbuhkan rasa menghargai,
memiliki, dan memelihara dalam diri siswa terhadap sumber daya dan lingkungan
hidup. Penanaman karakter pada anak juga didukung oleh budaya yang ada di
lingkungan. Pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur
bangsa dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter dan meningkatkan
prestasi belajar siswa.
Kearifan lokal merupakan bentuk dialektika antara
manusia dengan pengetahuan kehidupan yang mempunyai nilai pedagogis untuk
mengatur tingkah laku yang bermanfaat bagi kepentingan bersama masyarakat. Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 pasal
2 ayat (2) menjelaskan bahwa muatan lokal diajarkan dengan tujuan membekali
peserta didik dengan sikap, pengetahuan, dan spiritual di daerahnya. Tujuan
lainnya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah
yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan
nasional.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal tidak muncul
begitu saja, akan tetapi terdapat acuan yang melandasinya. Acuan yang digunakan
setidaknya pada dua hal, yaitu pembelajaran sebagai salah satu aspek pemenuhan
tujuan pendidikan dan landasan yuridis kebijakan nasional pendidikan. Landasan
yuridis kebijakan nasional tentang pendidikan berbasis kearifan lokal (PBKL),
diantaranya: “Renstra Kemendiknas
2010-2014 bahwa: Pendidikan harus menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya
keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem, yaitu pemahaman bahwa manusia adalah
bagian dari ekosistem. Pendidikan harus memberikan pemahaman tentang
nilai-nilai tanggung-jawab sosial dan natural untuk memberikan gambaran pada
peserta didik bahwa mereka adalah bagian dari sistem sosial yang harus
bersinergi dengan manusia lain dan bagian dari sistem alam yang harus
bersinergi dengan alam beserta seluruh isinya”.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal yang bertujuan
untuk menanamkan karakter siswa dapat dikemas ke dalam sebuah bahan ajar
tematik integratif. Bahan ajar tematik integratif yaitu bahan ajar yang
memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai
tema. Pembelajaran tematik integratif tersebut merupakan suatu pendekatan yang
diterapkan dalam kurikulum 2013 yang saat ini digunakan. Tujuan dari adanya
bahan ajar tersebut yaitu 1) membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu,
2) memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran, 3) membuat
pembelajaran menjadi semakin menarik. Bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan
karakteristik peserta didik akan menciptakan suatu lingkungan atau suasana yang
memungkinkan peserta didik untuk belajar. Penggunaan bahan ajar tematik
integratif berbasis kearifan lokal membuat peserta didik dapat berinteraksi
dengan cara yang bermakna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Tabel 1. Pemanfaatan kearifan lokal
dalam bahan ajar tematik integratif dan karakter yang dapat ditanamkan pada
siswa
No.
|
Kelas
|
Tema
|
Kearifan Lokal (Lingkungan)
|
Karakter yang ditanamkan
|
1.
|
I
|
Benda,
hewan, dan tanaman
di sekitarku
|
Hutan
mangrove
|
Bersahabat
dengan lingkungan, peduli lingkungan, cinta tanah air.
|
2.
|
II
|
Pengalamanku
|
Museum
|
Rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, tanggung jawab, peduli sosial.
|
3.
|
III
|
Benda
di sekitarku
|
Pantai
|
Rasa
ingin tahu, peduli lingkungan,
|
4.
|
IV
|
Peduli
terhadap makhluk hidup
|
Pegunungan
|
Peduli
lingkungan, peduli sosial, bersahabat, cinta damai
|
5.
|
V
|
Ekosistem
|
Pegunungan,
pantai
|
Mandiri,
bershabat, peduli lingkungan.
|
6.
|
VI
|
Selamatkan
makhluk hidup
|
Taman
bunga
|
Peduli
lingkungan, cinta tanah air, cinta damai.
|
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa bahan ajar
tematik integratif dapat dikembangkan dengan berbasis kearifan lokal yang ada
di suatu daerah sebagai sarana untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga
anak memperoleh pengalaman pembelajaran yang bermakna. Karakter pada siswa juga
dapat ditanamkan melalui kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan kearifan lokal
sebagai sarana dalam penyampaian pembelajarannya.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa sekolah dasar masih berada
pada fase operasional konkret. Berdasarkan fase ini, pembelajaran di sekolah
dasar diawali dengan sesuatu yang konkret dan nyata serta dekat dengan
kehidupan, pengetahuan dan pengalaman siswa. Bahan ajar tematik integratif
yaitu bahan ajar yang memadukan berbagai kompetensi dari berbagai mata
pelajaran ke dalam berbagai tema. Bahan ajar tematik integratif berbasis
kearifan lokal sebagai tema utama dapat digunakan untuk menyampaikan tujuan
dari pembelajaran pada kurikulum 2013 dikarenakan tema tersebut berhubungan
erat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menanamkan karakter pada siswa.
Tujuannya yaitu melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerah
yang berguna bagi diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang pembangunan
nasional.
Sekarang ini
banyak guru menggunakan bahan ajar yang disediakan dari pemerintah tanpa
mengembangkan sesuai kebutuhan siswa dan budaya lokal. Sebagai seorang guru
sangat dianjurkan untuk dapat mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan
kebutuhan siswa dan dapat menanamkan karakter pada siswa. Hal ini sangat
diperlukan karena bahan ajar yang disediakan oleh pemerintah memiliki cakupan
materi yang masih bersifat umum karena diperuntukkan bagi siswa di seluruh
Indonesia dan belum sesuai dengan keadaan atau kearifan lokal yang ada di
daerah sekitar tempat tinggal siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta,
W.J.S. (2011). Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Susilana,
Rudi. (2009). Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan (Bagian II: Ilmu Pendidikan Praktis). ISBN: 978-979-16173-0-7.
Bandung: IMTIMA.
Yusinta
Dwi Ariyani & Muhammad Nur Wangid. (2016). Pengembangan Bahan Ajar
Tematik-Integratif Berbasis Nilai Karakter Peduli Lingkungan dan Tanggung
Jawab. Jurnal Pendidikan Karakter,
(1), 116-129.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar